PAMERAN SENIRUPA

Streamline”, Cemara 6 Galeri - Jakarta, 2002, pameran patung pertama tunggal.

Setelah dua bulan mempelajari teknik patung secara otodidak, George mulai menuangkan ide-ide dan imajinasinya ke dalam puluhan patung yang dibuat dalam waktu satu tahun. Mengikuti saran dari kurator Rifky Effendy, maka di akhir tahun 2002 George memberanikan diri menampilkan karya-karyanya di Galeri Cemara 6 Jakarta. Disertai saran dan pertimbangan-pertimbangan khusus dari Ibu Inda Nurhadi sebagai pemerhati senirupa dan pemilik Galeri tersebut. Dengan dibukanya Pameran Patung Tunggal bertajuk “Streamline” oleh ibu Pia Alisjahbana, maka dimulailah perjalanan apresiasi senirupa oleh publik atas karya-karya patung kontemporer George Timorason.

Selain dikoleksi oleh para pencinta seni, karya-karya dalam pameran ini juga banyak diliput media massa - baik media cetak maupun elektronik.

 

Semarak Indonesia”, Bandung Supermal Atrium Galeri, 2003, pameran kedua tunggal

Sebagai tanda kecintaannya akan negeri ini, maka pada bulan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, George menggelar pameran tunggalnya yang kedua, kali ini di area publik, sebagai bentuk partisipasi dan edukasi masyarakat akan arti sebuah perjuangan yang dituangkan dalam bentuk senirupa. Respon publik yang diterima sangat baik dan hal ini menguatkan George untuk terus berkarya dan menambah jumlah pematung Indonesia yang produktif.

 

Pameran Seni Patung”, Padi Artground, 2005, pameran bersama

Dalam perjalanan berkesenian, George juga mengambil bagian dalam pameran bersama seniman patung lainnya, seperti Ibu Rita Widagdo, Bpk. Sidharta Sugijo, Bpk Sunaryo, Bpk Amrizal, disamping banyak seniman muda lainnya.

 

Portrait”, Galeri Soemardja - Bandung, 2009

Setelah cukup lama vakum dari pameran di galeri karena sibuk dengan proyek-proyek yang ditangani, kali ini George bersama-sama dengan banyak seniman muda lainnya menggelar pameran di Galeri Sumardja Institut Teknologi Bandung. Pada kesempatan ini George menghadirkan karya senirupa gigantik di galeri yang bersifat sebagai barometer senirupa di Bandung.

 

A-Maze”, Pacific Place - Jakarta, 2009

Sebagai sebuah proyek ‘seni rupa publik’, suatu kesempatan untuk menempatkan ekspresi karya-karya seni rupa kontemporer di ruang publik, pada lokasi pusat belanja, di sebuah Mall, ini ditujukan untuk ‘mendatangi’ pola interaksi karya dengan publik secara ‘berbeda’ dari yang kebiasaan yang terjadi di ruang pamer galeri.

Menampilkan sebuah karya gigantik berjudul “Face”, Geoti Studio berhasil mengundang para pengunjung berinteraksi dengan karya tersebut, dilihat dari banyaknya respon pengunjung berfoto ria disana.

 

“Plaza Indonesia Art Festival”, Jakarta, 2010

Dibuka oleh menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu, sebagai simbol dukungan terhadap gerakan cinta produk Indonesia, yang mempunyai kualitas yang juga dapat dibanggakan, tidak kalah dengan produk bermerek dari luar negeri.

 

Space and Image”, Ciputra World Art Gallery - Jakarta, 2010

Dalam sebuah ruang presentasi senirupa bertaraf internasional yang diprakarsai oleh Bpk. Ciputra, maka bersamaan dengan Grand Opening Ciputra World Jakarta, dilangsungkan sebuah pameran senirupa berskala besar yang dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo, dan menghadirkan karya 100 orang seniman Indonesia.

 

Making is Thinking”, Jazzcraft Vaganza Balepare

Dikuratori oleh Jim Supangkat, Pameran ini dibuat sebagai salah satu event senirupa yang melibatkan berbagai karya seniman di Indonesia. Disertai dengan berbagai workshop dan demo untuk umum, mengajak masyarakat belajar memahami senirupa dengan melihat proses berkesenian dari tiap-tiap seniman.